MENGAPA HARUS ASURANSI SYARIAH?

Pertumbuhan industri syariah masih kalah jauh dibandingkan dengan konvensional. Market share industri syariah masih sangat rendah bila di bandingkan dengan konvensional. Market Share yang masih rendah ini mengindikasikan bahwa masyarakat kurang berminat terhadap produk-produk jasa keuangan syariah. Rendahnya minat masyarakat dalam menggunakan produk-produk jasa keuangan syariah ini disebabkan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai hal tersebut, sebut saja salah satu jenis produk jasa keuangan syariah seperti asuransi syariah, masyarakat akan bertanya apa itu asuransi syariah lalu apa bedanya dengan asuransi konvensional, apakah lebih menguntungkan atau bagaimana, sehingga ketika perusahaan menawarkan produk ini, masyarakat pun akan bertanya,‘Memangnya Mengapa harus asuransi syariah?

Sebagai salah satu upaya pencerdasan kepada masyarakat, postingan penulis kali ini akan membahas salah satu produk jasa keuangan syariah  tersebut dengan harapan kita semakin paham dan  akhirnya muncul keyakinan kuat, mengapa kita  harus memilih produk jasa keuangan syariahdalam hal ini asuransi syariah. Dari beberapa sumber yang penulis baca, setidaknya ada beberapa alasan utama mengapa harus asuransi syariah. Penulis akan coba menyampaikannya satu-satu.

Sejarah Asuransi Syariah

Lembaga asuransi sebagaimana dikenal sekarang sesungguhnya tidak dikenal pada masa awal Islam, akibatnya banyak literatur Islam menyimpulkan bahwa asuransi tidak dapat dipandang sebagai praktik yang halal. Walaupun secara jelas mengenai lembaga asuransi ini tidak dikenal pada masa Islam, akan tetapi terdapat beberapa aktivitas dari kehidupan pada masa Rasulullah yang mengarah pada prinsip-prinsip asuransi. Misalnya konsep tanggung jawab bersama yang disebut dengan sistem aqilah. Sistem tersebut telah berkembang pada masyarakat Arab sebelum lahirnya Rasulullah SAW. Sudah menjadi kebiasaan suku Arab sejak zaman dulu bahwa, jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh oleh anggota dari suku lain lain, pewaris korban akan dibayar sejumlah uang darah (diyat) sebagai kompensasi oleh saudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat pembunuh tersebut harus membayar uang darah (yang disebut Aqilah) atas nama pembunuh.

kemudian pada zaman Rasulullah SAW. atau pada awal masa Islam sistem tersebut dipraktikan di antara kaum muhajirin dan anshar. Sistem aqilah adalah sistem menghimpun anggota untuk menyumbang dalam suatu tabungan bersama yang dikenal sebagai “kunz”. Tabungan ini bertujuan untuk memberikan pertolongan kepada keluarga korban yang terbunuh secara tidak sengaja dan untuk membebaskan hamba sahaya. Pada perkembangan selanjutnya, aqilah diterima menjadi bagian dari hukum Islam, seperti hadist berikut: “Diriwayatkan oleh Abu Hanifah yang mengatakan: pernah dua wanita dari suku Huzail bertikai ketika seorang dari mereka memukul yang lain dengan batu yang mengakibatkan kematian wanita itu dan jabang bayi dalam rahimnya. Pewaris korban membawa kejadian itu ke pengadilan Nabi Muhammad SAW yang memberikan keputusan bahwa kompensasi bagi pembunuh anak bayi adalah membebaskan seorang budak laki-laki atau perempuan sedangkan kompensasi atas membunuh wanita adalah uang darah (diyat) yang harus dibayar oleh saudara pihak ayah (Aqilah) dari yang tertuduh.

Mengapa Kita Perlu Berasuransi?

Yang pertama, sebelum membahas mengapa harus asuransi syariah, kita perlu mengetahui terlebih dahulu, mengapa kita perlu berasuransi, khususnya untuk kita yang belum memiliki asuransi. Alasan  mengapa perlu berasuransi adalah mempersiapkan hari depan kita. Hidup ini penuh resiko dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja kita terpeleset di kamar mandi dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit hingga beberapa waktu atau kita tiba-tiba ditinggal keluarga akibat kecelakaan atau masalah kesehatan menimpa kita seperti seperti serangan jantung atau stroke dan lain-lainnya. Semua itu memerlukan persiapan dan kesiapan. Berasuransi merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan hari depan kita karena dengan berasuransi kita telah berusaha untuk berjaga-jaga jika suatu saat musibah itu datang menimpa kita.

Di dalam ajaran Islam pun, Allah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan hari depan kita. Di dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 18 Allah swt berfirman,

“Wahai orang-orang yang ber­iman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertakwalah kepada Allah! Sesung­guhnya Allah itu Maha Menge­tahui apa  yang kamu kerjakan.”

Hal serupa pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf as, masih ingatkan kisahnya, ketika ia menafsirkan mimpi Raja Mesir bahwa akan terjadi krisis pangan tujuh tahun mendatang dan Nabi Yusuf melakukan perencanaan dan menyiapkan hari depan Negara Mesir saat itu dengan melakukan penghematan. Coba bayangkan apa yang terjadi terhadap rakyat Mesir saat itu bila tidak dilakukan persiapan menghadapi hari depan itu. Itulah perlunya kita menyiapkan hari depan kita dan salah satu caranya dengan berasuransi.

Aa Gym pernah bilang: “Kita harus jadi bangsa visioner,” katanya. Menyisihkan dana secara teratur di usia produktif, sebagai simpanan hari tua, adalah contoh bangsa yang visioner. Umat perlu banyak menabung untuk menghadapi masa sulit, sebagai antisipasi andai musibah datang menimpa. Selain itu, bisa jadi persiapan kalau-kalau ada keperluan mendesak yang butuh dana besar, seperti ketika anak-anak secara serempak masuk sekolah. Kita perlu mencontoh Malaysia yang 60 persen penduduknya sudah sadar menabung. Sementara penduduk Indonesia belum mencapai 10 persen yang sadar tabungan. Asuransi syariah sudah menjadi konsep global. Hampir 200 (dua ratus) perusahaan asuransi di dunia menggunakan konsep ini. Tanpa kecuali negara-negara non-Muslim.

Yang Kedua, mengapa harus asuransi syariah. Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu membandingkannya dengan asuransi konvensional dengan cara melihat perbedaan di antara keduanya sehingga kita bisa menyimpulkan mengapa harus asuransi syariah. Berikut ini penulis sampaikan terlebih dahulu ciri-ciri utama dari asuransi syariah, di antaranya:

  1. Akad asuransi syari’ahadalah bersifat tabarru’, sehingga tidak mengenal premi melainkan infaq atau sumbangan. Dan sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru’, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah keuntungan hasil mudhorobah bukan riba.
  2. Akad asuransi ini bukan akad mulzim(perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama’ah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama.
  3. Akad dalam asuransi syariah sesuai dengan syariah Islam yakni akad yang tidak mengandung gharar, maysir, riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Apa itu gharar, maysir dan ribagharar itu sesuatu yang tidak jelas atau ketidakpastian, maysir itu perjudian dan riba itu bunga yang saat ini kita kenal. Yang di dalam Islam ketiga unsur itu dilarang dan diharamkan.

Berikut Akad/Kontrak Asuransi Allianz Syariah:

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, sebagai calon anggota kumpulan peserta (pemegang polis/peserta) PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah, dengan ini:

  1. Saya menyatakan diri sebagai anggota kumpulan peserta asuransi syariah Allianz bersama dengan para peserta lainnya untuk saling tolong-menolong (ta’awun) terhadap musibah yang mungkin dialami oleh salah seorang di antara peserta dan untuk itu saya bersedia membayar sejumlah dana tabarru sebagai dana ta’awun peserta.
  2. Saya menyatakan dan menyetujui, berdasarkan akad Wakalah Bil Ujrah, memberikan kuasa kepada PT Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah, selaku wakil untuk mengelola dana, risiko, dan melakukan transaksi atas nama saya. Saya setuju membayarkan ujrah akuisisi dan pemeliharaan, ujrah pengelolaan risiko, ujrah administrasi, dan ujrah lainnya sehubungan dengan transaksi Polis sesuai dengan ketentuan berlaku.
  3. Untuk ujrah pengelolaan risiko di atas, saya menyetujui untuk memberikan fee sebesar 25% yang dipotong dari ujrah asuransi sebagai hak PT Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah.
  4. Saya mewakilkan kepada PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah, juga sebagai Manajer Investasi untuk melakukan transaksi investasi sesuai dengan jenis investasi yang saya pilih. Saya setuju membayar ujrah pengelolaan investasi sesuai ketentuan berlaku.
  5. Apabila saya menjadi peserta kumpulan asuransi Allisya Protection dan Allisya Protection Plus, maka saya akan dibebaskan dari ujrah administrasi pada tahun pertama Polis dan berkewajiban membayar ujrah asuransi mulai bulan ke-13 sejak Polis diterbitkan.
  6. Saya mengikhlaskan dan menyetujui pembagian surplus underwriting sebesar 100% ke dalam rekening dana Tabarru dan 0% kepada PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah. Apabila terjadi defisit underwriting maka kekurangannya menjadi tanggung jawab para peserta sedangkan PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Cabang Syariah, dapat meminjamkan sementara berdasarkan prinsip al-qardh (tanpa tambahan/bunga) untuk membayar maslahat (manfaat) atas musibah yang terjadi di antara peserta, yang akan dikembalikan dari surplus underwriting yang akan datang.

[Dikutip dari Surat Permohonan Asuransi Jiwa Syariah]

  1. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. Lebih jelasnya berikut perbedaan di antara keduanya :
  2. Prinsip akad asuransi syariahadalah takafuli (tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).
  3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah(premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.
  4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
  5. Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.
  6. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.
  7. Adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

Dari perbedaan-perbedaan yang penulis sampaikan, tentu kita sudah mulai menemukan suatu kesimpulan mengapa harus asuransi syariah.

Dari penjelasan ini, bagaimana, sudah yakinkah Anda untuk memilih Asuransi syariah?

Salam,

M.Ridwan – Agent Asuransi Allians Syariah

087772501195 (HP/WA)

263BA80E (Pin BB)

ridwan030@gmail.com (Email)

ridwan030.blogspot.com (blog)

Tentang mred_one

Agen Asuransi Allianz Syariah. Berdomisili di Bandung. M. Ridwan No HP/WhatsApp: 087772501195 Facebook : Mas Afwan Ridwan IG : MasAfwanRidwan
Pos ini dipublikasikan di Artikel Asuransi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s