Akad Tabarru/Hibah dalam Asuransi Syari’ah

Sampai saat ini, asuransi masih menjadi perdebatan bagi sebagian orang. Ada yang mengharamkan asuransi, meskipun itu asuransi syariah, namun adapula yang menghalalkan asuransi meskipun itu asuransi konvensional.

Bagi saya pribadi, posisi saya tidak berada di dua pendapat tersebut. Saya menggambil posisi pertengahan. Yaitu, menghalalkan asuransi syariah dan mengharamkan asuransi konvensional. Hal-hal yang haram dalam asuransi konvensional seperti Gharar (ketidak jelasan) Maisyir (Judi) dan Riba telah dihilangkan dalam asuransi syariah melalui akad yang digunakan, yaitu akad Tabarru atau Hibah.

Hibah/tabarru merupakan akda yang memiliki legalitas hukum syari’ah, baik dari Al-Quran  maupun dari As-Sunnah, diantaranya sebagai berikut

“Bukanlah kebaikan itu engkau mengarahkan wajahmu menghadap timur dan barat. Akan tetapi, kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir , para malaikat, para nabi, memberikan harta yang disukainya kepada kerabat dekatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin , orang yang meminta-minta dan untuk membebaskan budak…..”

(QS al-Baqarah (2): 177

Rukun Tabarru (hibah)

Sebagai akad yang penting dalam sistem operasional asuransi syariah dalam implementasinya, tabarru atau hibah harus memperhatikan rukun-rukunnya. Apabila salah satu rukun dari tabarru atau hibah hilang, akan mengakibatkan “hilangnya” keabsahan dari tabarru tersebut, yang secara otomatis juga dapat mengakibatkan batalnya akad ta’awun (asuransi syariah).

Rukun-rukun tabarru atau hibah adalah sebagai berikut:

  1. Wahib (pemberi hibah/tabarru)

Wahib, yaitu pemilik barang atau harta yang akan dihibahkan di tabarru-kan kepada orang lain. Dalam asuransi syariah wahib/pemberi hibah adalah nasabah pembayar premi.

 

  1. Al- Mauhub Lahu (Penerima Hibah/Tabarru)

Penerima hibah adalah siapa saja, lelaki/perempuan. tua/muda, bahkan Muslim dan non-muslim. Dalam asuransi syariah, almauhub lahu//penerima hibah adalah peserta asuransi syariah yang mengalami musibah sehingga berhak mendapatkan santunan/manfaat takaful.

  1. Al-Mauhub (barang/harta yang akan diberikan)

Al—Mauhub yaitu barang, harta atau sesuatu yang dimiliki oleh pemilik. Disyaratkan tidak boleh memberikan sesuatu yang diharamkan, dalam asuransi syariah, al-mauhub adalah premi atau kontribusi

  1. As-Shigah (ijab dan Qabul)

As-Shiqah yaitu segala ungkapan yang menuntut adanya ijab dan qabul, baik melalui lisan maupun perbuatan. Dalam asuransi syariah umumnya berbentuk formulir aplikasi yang ditandatangi oleh peserta, selanjutnya asuransi syariah menerbitkan polisnya.

 

Demikian dasar saya mengikuti pendapat ulama yang menghalalkan asuransi syariah. Jadilah ummat yang wasathan (pertengahan), tidak mudah menghalalkan sesuatu dan tidak pula mudah mengharamkan sesuatu sampai ada dasar ilmunya.

 

Demikian. Untuk info lebih lanjut, atau ingin mendapatkan ilustrasi Asuransi, silakan menghubungi kontak di bawah ini:

Muhamad Ridwan

HP/WA : 087772501195

PinBBM : D5CBF3F6

Email : ridwan030@gmail.com

Tentang mred_one

Agen Asuransi Allianz Syariah. Berdomisili di Bandung. M. Ridwan No HP/WhatsApp: 087772501195 Facebook : Mas Afwan Ridwan IG : MasAfwanRidwan
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s